Bakti Seorang Anak Kepada Ibundanya

Setelah satu bulan lebih tidak aktif ngeblog dikarenakan sesuatu hal, Alhamdulillah, akhirnya pada kali ini saya berkesempatan untuk menyapa para sobat kembali. Gimana kabarnya sobat?, gimana juga perkembangan blognya?, mudah-mudahan traffik blognya meningkat, sehingga page rank serta alexa-nya juga semakin baik. Kalau saya sih masih biasa-biasa aja, maklumlah gak rajin posting. Kemudian satu lagi, mumpung masih dalam suasana lebaran, saya juga mengucapkan “selamat hari raya idul fitri 1433 H, mohon maaf lahir dan bathin” kepada para sobat yang merayakannya.

Waktu satu bulan lebih bisa jadi merupakan kurun waktu yang sangat singkat bagi orang-orang yang super sibuk. Namun, satu bulan lebih tidak ngeblog bagi saya merupakan waktu yang sangat lama, yang kemudian berdampak pada kakunya jari-jemari dalam menguraikan bertumpuk-tumpuk ide dalam kepala. Kondisi seperti itu juga yang saya alami pada saat saya mengetik tulisan ini. Al-hasil, beginilah rupa tulisan yang ditulis dalam euforea perut kenyang – maklumlah balas dendam setelah satu bulan lamanya kelaparan di siang hari. Jadi mohon maklum dari sobat-sobat semua, jika tulisan ini diantar dengan kalimat yang terkesan ngalor-ngidul terlebih dahulu.

Setelah bersapa ria pada awal-awal paragraf di atas, saya pengen memfokuskan tulisan ini pada topik yang sedikit serius. Namun, karena saat ini mungkin banyak diantara sobat yang masih capek karena baru pulang dari mudik, atau baru pulang dari lokasi-lokasi objek wisata, saya khawatir ketika ngomongin topik yang serius, sobat akan berhenti membaca atau malah langsung ninggalin blog saya ini. Sebagai gantinya, saya akan sedikit ndongeng tentang bakti seorang anak kepada ibundanya.

“Dahulu kala, pada sebuah kerajaan, para pemberontak yang dipimpin oleh seorang Panglima Perang yang kejam mampu merebut kekuasaan dari tangan Sang Raja.  Oleh Panglima, Sang Raja beserta keluarga dan para pengikutnya yang setia kemudian dimasukan di dalam penjara bawah tanah yang pengap dan gelap gulita. Tidak hanya itu, untuk memutus mata rantai keturunan kerajaan, Panglima yang kejam itu memerintahkan tiga orang perajuritnya untuk membawa Sang Pangeran – anak satu-satunya Raja yang masih bayi – dan membunuhnya di dalam hutan.

Melihat wajah polos seorang bayi tersenyum kepadanya, ketiga orang perajurit yang telah menghunus pedang dan siap membunuh mengurungkan niatnya. Ketiga perajurit kemudian meletakan Sang Bayi di dalam sebuah gorong-gorong. Sebagai gantinya, para perajurit membunuh anjing hutan dengan pedangnya. Dan untuk meyakinkan Panglima bahwa seolah-olah mereka telah membunuh bayi raja, pedang yang berlumuran darah anjing oleh para perajurit diperlihatkan kepadanya.

Di dalam gorong-gorong yang gelap dan sempit, Sang Bayi yang kedinginan dan kelaparan menangis selama berjam-jam. Karena lama menangis, energi Sang Bayi menjadi terkuras, suara tangisnya menjadi pelan dan akhirnya menjadi tidak terdengar sama sekali. Sang Bayi yang sangat kelaparan terus mengecap-ngecap – mengatup-ngatupkan mulutnya – seperti naluri pada umumnya bayi yang ingin menyusu. Pada saat Sang Bayi membalikan badan, mulut mungilnya menyentuh puting susu seekor harimau betina yang sedang tidur tepat di atas gorong-gorong. Sang Bayi pun kemudian langsung menyusu hingga puas.

Rupanya, harimau yang menyusui Sang Bayi, baru saja kehilangan anaknya yang mati beberapa minggu setelah dilahirkannya. Karena merasa nyaman setelah menyusui Sang Bayi, akhirnya setiap hari harimau betina itu selalu menyusui Sang Bayi dan melindunginya dari segala marabahaya. Diantara keduanya terjalin hubungan layaknya antara seorang anak dengan seorang ibu, hingga Sang Bayi besar dan menjadi seorang pemuda.

Di tempat lain, setelah bertahun-tahun tahun lamanya Panglima Perang yang kejam menjadi raja, ia mendapat laporan dari bagian intelligence-nya bahwa bayi raja yang dulu dibawa ke dalam hutan untuk dibunuh oleh perajuritnya, ternyata tidak dibunuh. Mendengar laporan itu, Sang Raja menjadi khawatir kekuasaannya bakal direbut. Untuk mengamankan nasib kekuasaannya, ia memerintahkan seluruh pasukannya untuk mencari dan membunuh Sang Pangeran yang ada di dalam hutan.

Selama empat tahun para perajurit kerajaan melakukan pencarian terhadap Sang Pangeran, namun tidak pernah membuahkan hasil. Banyak anggaran kerajaan yang terkuras hanya sekedar untuk melaksanakan proyek pencarian itu. Melihat hasil pekerjaan para perajuritnya, Sang Raja menjadi kalap dan semakin membabi buta. Menjelang tahun kelima, Sang Raja mengeluarkan kebijakan untuk menangkap setiap laki-laki yang dijumpai ada di dalam hutan. Bahkan, untuk memastikan Sang Pangeran bisa terbunuh, ia memerintahkan para perajuritnya untuk membabat habis dan membakar semua hutan yang ada di wilayah kerajaannya. Akibat kebijakan Sang Raja yang lalim, menyebabkan hutan-hutan banyak yang menjadi gundul, sehingga berdampak pada terjadinya bencana longsor di banyak pelosok kerajaan, sumber air menjadi semakin langka, sawah-sawah milik rakyat menjadi kekeringan, udara yang tadinya sejuk menjadi panas, dll.

Setelah menerapkan kebijakan yang membabi-buta, Sang Raja dilapori oleh perajuritnya bahwa Sang Pangeran telah terbunuh. Merasa bahwa Sang Pangeran telah terbunuh bersama kobaran api yang melalap segala isi hutan, hidup Sang Raja mulai menjadi tenang. Untuk memulihkan anggaran pendapatan dan belanja kerajaannya yang kedodoran akibat kebijakan bodohnya, Ia mulai mencari pinjaman-pinjaman uang ke kerajaan-kerajaan donor yang biasa memberikan kreditnya. Sebagai alat negosiasi untuk memuluskan proses pencairan pinjaman, Sang Raja meyakinkan kerajaan-kerajaan donor bahwa uang yang dipinjamnya akan ia gunakan dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang dialami oleh rakyatnya, juga untuk melaksanakan proyek-proyek pemulihan hutan agar kondisi lingkungan dunia menjadi lebih baik. Karena alasan-alasan itu, maka banyak kerajaan donor yang tertarik untuk meminjamkan uangnya, dan bersepakat untuk meneken kontrak pinjaman dalam sebuah konferensi yang harus diselenggarakan oleh Sang Raja.

Saat konferensi oleh para perwakilan kerajaan-kerajaan donor sedang berlangsung, tiba-tiba hadirin dikejutkan oleh kemunculan seekor harimau yang mengamuk memporak-porandakan ruangan konferensi. Kontan saja seluruh peserta pertemuan, tidak terkecuali Sang Raja menjadi ketakutan dan berlarian menyelamatkan diri masing-masing. Satgas pengamanan konferensi yang terdiri dari para perajurit pilihan dan dilengkapi dengan segenap senjata canggih pun, tidak mampu menghentikan aksi harimau yang sedang murka itu.

Selesai mengamuk di ruang konferensi, harimau masuk ke dalam istana kerajaan dan duduk di tengah ruangan tepat di depan kursi singgasana raja. Berhari-hari harimau itu duduk, selama itu pula Sang Raja tidak bisa merasakan empuknya duduk di kursi singgasananya. Tidak ada yang mampu mengalahkan harimau kendati para perajurit dari kesatuan elit sekalipun. Karena keberadaan harimau yang terus menghalangi dirinya untuk duduk di kursi singgasana, akhirnya ia membuat sayembara kepada khalayak ramai, bahwa orang yang mampu mengalahkan harimau akan dinikahkan dengan putrinya.

Beribu-ribu orang melamar mengikuti sayembara agar jika menang bisa menikahi putri raja yang cantiknya bukan kepalang, tidak terkecuali para pangeran yang ganteng-ganteng dari kerajaan lain pun ikut mengadu keberuntungan demi mendapatkan Sang Puteri. Namun harimau itu tetap tidak terkalahkan, begitu mendengar raungannya saja, bulu kuduk orang-orang itu sudah berdiri, apalagi untuk melawannya.

Saat sayembara akan ditutup karena seluruh peserta sudah tidak sanggup melawan harimau, seorang pemuda masuk ke istana untuk mengikuti sayembara. Sambil mendekat, pemuda itu melempar kerikil kecil ke arah harimau. Tiba-tiba saja, harimau yang semula garang dan siap menerkam siapa saja, menjadi luluh. Si pemuda membisiki telinga harimau, kemudian menarik telinganya dan menuntunnya masuk dalam kerangkeng besi yang sudah disiapkan oleh Sang Raja. Menyaksikan adegan itu, suasana menjadi gegap-gempita, seluruh orang bertepuk tangan dan berdecak kagum memuji kehebatan Sang Pemuda.

Sesungguhnya, Sang Pemuda itu adalah seorang bayi yang dulu ditinggalkan di sebuah gorong-gorong kecil yang telah besar dan menjadi seorang pangeran yang tangguh. Namun tabir sejarah ini belum terungkap baik oleh Sang Raja maupun oleh dirinya. Atas keberhasilan mengalahkan harimau, akhirnya Sang Raja pun menikahkan puterinya yang cantik jelita dengan Sang Pemuda yang tangguh itu.

Setelah pesta pernikahan yang dilaksanakan selama tujuh hari tujuh malam usai, Sang Pemuda meminta ijin kepada Sang Raja – bapak mertuanya – untuk memboyong isterinya dan membawa harimau ke dalam hutan. Pada awalnya, tentu saja Sang Raja tidak mengijinkan mereka, namun karena Sang Puteri yang telah kepincut berat terhadap Sang Pemuda juga ikut-ikutan membujuk bapaknya, dengan berat hati Sang Raja akhirnya mengijinkan puterinya beserta Sang Pemuda dan harimau meninggalkan istana.

Bagi Sang Pangeran, pilihan tidak tinggal di istana dan lebih memilih tinggal di dalam hutan, ia ambil agar bisa tetap menjaga ibunya – Sang Harimau – yang sudah mulai tua, sekaligus agar ia juga bisa tetap melestarikan hutan.”

Sobat sekalian, kira-kira dongeng ini saya cukupkan sampai di sini. Mudah-mudahan sungkem terhadap ibunda yang dilakukan oleh sobat sekalian pada hari raya idul fitri beberapa hari yang lalu, mendapat ridho dan restu dari beliau.

RSS
Facebook
Google+
Twitter
LinkedIn
Whatsapp