Digigit Lipan

Foto: id.wikipedia.org
Foto: id.wikipedia.org

Hari itu, seusai melakukan kegiatan pertemuan dengan masyarakat di salah satu desa sekitar hutan di Kabupaten Tolitoli, saya bersama dengan dua orang teman sekantor menyempatkan mampir di rumah seorang teman lama yang menjadi guru SMP dan bersama keluarganya tinggal di desa yang sama – desa dimana saya melakukan pertemuan dengan masyarakat. Di rumahnya, sesudah kami melakukan sholat magrib, isterinya yang ramah menghidangkan makan malam, yang dilajutkan dengan menyajikan kopi robusta sebagai pelengkap rokok dalam perbincangan kami dengan suaminya.

Maksud semula hanya mampir selama satu atau dua jam saja, namun sambutan hangat dari tuan rumah membuat kami asyik berbincang-bincang sejak sore hingga jam setengah sebelas malam. Bahkan karena masih ingin berlama-lama, setelah kami selesai berbincang-bincang, saya memutuskan untuk tidak langsung pulang. Kami pun kemudian istirahat dan tidur melantai di ruang tengah dengan beralaskan kasur palembang yang cukup tipis.

Baru saja satu jam tertidur, ketika seisi rumah sedang lelap tertidur, tiba-tiba saya terbagun karena rasa sakit di bagian atas siku lengan tangan kanan. Saat saya mengangkat tangan yang sakit, seekor lipan bergerak menyelinap masuk ke lubang dinding. Rupanya, lipan ini menggigit karena kegencet oleh tangan saya. Akibat dari gigitannya lumayan sakit, rasanya seperti terbakar api dan terasa pegal, serta meninggalkan bekas berupa sepasang luka yang menyebabkan pembengkakan kecil dan kemerahan di sekitar bekas gigitan.

Kejadian malam itu merupakan pengalaman pertama kali saya digigit lipan, sehingga cukup membuat saya merasa cemas. Saya khawatir jangan-jangan gigitan lipan mengandung bisa yang dapat membahayakan. Walaupun merasa cemas, namun saya merasa sungkan untuk membangunkan teman sekantor apalagi tuan rumah yang sedang tertidur lelap. Yang saya lakukan hanya pergi ke kamar mandi dan mencuci bekas gigitan dengan air dari bak mandi. Untuk mengurangi rasa sakit, beberapa kali saya menggosokan minyak kayu putih di bagian bekas gigitan.

Setelah digigit lipan, saya tidak dapat tidur kembali. Saya duduk di samping teman yang masih tertidur, dengan pandangan mata terus ke arah lubang tempat lipan bersembunyi. Setelah sepuluh menit, tiba-tiba lipan keluar bergerak ke arah kasur mendekati tempat saya duduk dan teman yang masih tidur. Warna lipan yang hitam dengan panjang lima belas centimeter, awalnya sempat membuat saya merasa geli. Khawatir dapat menggigit teman yang masih tidur, lipan yang sedang bergerak dengan sejumlah kaki yang tumbuh di setiap ruasnya, saya pukul menggunakan korek api zippo. Mendengar suara pukulan, tuan rumah terbangun dan akhirnya seisi rumah jadi terbangun semua.

Karena kejadian itu, salah seorang teman mengusulkan kepada saya untuk pulang pada malam itu juga. Dengan tidak mengurangi rasa hormat akhirnya saya berpamitan kepada pak guru selaku tuan rumah. Namun sebelum kami pulang, pak guru sempat membuatkan kopi robusta kembali – katanya untuk menghilangkan rasa kecemasan kami.

Kami pun akhirnya pulang menuju Kota Palu, dengan membawa pengalaman yang berharga.

RSS
Facebook
Google+
Twitter
LinkedIn
Whatsapp