Hembusan Sejuk dari Danau Talaga – Sulawesi Tengah

Sebuah danau dengan air yang tenang luasnya kurang lebih dua ratus kilometer terhampar luas di pinggiran pemukiman sebuah desa yang dihuni oleh kurang lebih tiga ribu penduduk. Anak-anak kecil melepas tali perahu yang diikat di tentean yaitu semacam darmaga sebagai tempat bersandar perahu dan juga digunakan oleh masyarakat sebagai tempat untuk mencuci dan mandi. Mereka biasanya pergi ke kebun di bukit bagian barat danau atau mencari ikan, atau hanya sekedar main-main saja. Sepasang sapi jantan dan betina beranjak dari pinggir danau setelah asik bercumbu dan mereguk nikmatnya air danau untuk melepaskan dahaga.

Di pinggiran danau terdapat nontong porimunong ita seseibi, sebuah bangunan yang cukup luas dengan tipe terbuka berdiri kokoh diperuntukan oleh masyarakat untuk mengadakan pertemuan, atau biasa juga digunakan sebagai tempat para pengunjung yang ingin melihat-lihat keindahan danau. Seorang perempuan muda menaiki anak tangga dari bangunan pertemuan ini. Hembusan sejuk dari danau meniup rambutnya yang tergerai hitam kelam. Gaya pakaian yang dikenakannya bernuansa casual dengan celana jeans, kaos oblog dan rompi yang banyak kantongnya. Bersama dengan adiknya, perempuan muda ini membagikan kue kepada masyarakat yang sedang mengadakan pertemuan. Orang-orang di desa memanggilnya Ceria, nama yang mengandung arti cerah atau berseri-seri. Putri Damsol itu hanya tersipu malu ketika diberitahu arti dari namanya.

Siang itu, di desa Ceria sedang ada kegiatan sosialisasi Program REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Degredation Plus), sebuah pendekatan konservasi yang baru dalam mengurangi emisi karbon yang berkaitan dengan kerusakan hutan. Ide ini berbeda dengan kegiatan konservasi hutan sebelumnya karena dikaitkan langsung dengan insentif finansial untuk konservasi yang bertujuan menyimpan karbon di hutan. Gagasan utama REDD+ adalah aktivitas untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan cara mengurangi laju deforestasi, mengurangi degradasi hutan, menjaga ketersedian karbon, dan meningkatkan stok karbon hutan tanpa menggangu target pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional. Hal yang membedakan program ini dengan program-program lainnya juga adalah untuk memastikan Program REDD+ menjamin pemenuhan hak masyarakat adat dan lokal, maka Persetujuan Atas Dasar Informasi Awal Tanpa Paksaan (PADIATAPA) atau Free Prior and Informed Consent (FPIC), menjadi persyaratan dalam pelaksanaan Program REDD+. PADIATAPA atau FPIC adalah prinsip yang menegaskan adanya hak masyarakat adat  dan masyarakat lokal untuk menentukan bentuk-bentuk kegiatan apa yang mereka inginkan pada wilayah mereka.

Desa tempat Ceria bermukim itu namanya Talaga. Diambil dari kata danau yang ada di desanya, dalam bahasa daerah kata danau adalah Talaga. Secara administrasi, Desa Talaga termasuk dalam wilayah Kecamatan Damsol, Kabupaten Donggala. Berkendaraan apa saja tidak akan sulit untuk sampai ke desa Ceria. Jalan yang beraspal melewati tanjakan berkelok yang tidak seberapa. Perjalanan dapat ditempuh tidak sampai tiga jam lamanya dari Kota Palu, atau tidak sampai tiga puluh menit dari Sabang, ibukota Kecamatan Damsol. Hawa pedesaan tidak sedingin dulu, hal ini karena dampak dari fenomena pemanasan global yang berakibat pada perubahan iklim. Pemanasan global ini  tidak hanya menjadi keresahan masyarakat lokal, tetapi juga masyarakat Indonesia lainnya dan bahkan masyarakat  internasional.

Di desa Ceria ini, dijumpai hutan yang membuat pemandangan alam menjadi indah dan membuat kesan yang cukup mendalam. Pada areal yang sama juga dijumpai tanaman perkebunan milik masyarakat berupa kelapa, cengkeh dan coklat sebagai salah satu sumber penghidupan masyarakat, dengan produksi tanaman perkebunan rakyat terbesar adalah tanaman kelapa. Kekhasan lain dari lokasi ini adalah kekerabatan masyarakatnya yang masih kuat, dengan penduduk yang ramah dan mayoritas menganut Agama Islam.

Sejarah Kecamatan Damsol
Desa Talaga termasuk dalam Kecamatan Damsol Kabupaten Donggala. Dahulu kala, sebelum Kerajaan Banawa yang terletak di Donggala ditaklukan oleh Pemerintah Belanda pada Tahun 1905, di wilayah Damsol (Dampelas Sojol) terdapat dua kerajaan kecil, yaitu: (1) Kerajaan Dampelas dengan Wilayah meliputi Desa Kembayang sampai Dusun Bayang dengan pusat pemerintah di Sabang; dan (2) Kerajaan Sojol dengan Wilayah meliputi Dusun Siraru sampai Desa Bou dengan pusat Pemerintah di Balukang. Kedua kerajaan tersebut di bawah Pemerintah Kerajaan Bawana yang berpusat di Donggala. Oleh Raja Bawana wilayah Damsol disebut wilaya Banawa Utara.

Setelah Kerajaan Banawa  ditaklukan oleh Pemerintah Belanda pada Tahun 1905, Kerajaan Banawa dijadikan wilayah admistratif dengan nama Landschap atau Swapraja Banawa yang dibawahi oleh Onder Afdeling Donggala, dan kerajaan kecil yang ada di bawah pemerintahannya disebut distrik. Dengan demikian wilayah Damsol yang meliputi Kembayang sampai Ogoamas disebut Distrik Banawa Utara.

Dalam perkembangan selanjutnya, setelah Onder Afdeling Donggala, Palu, Parigi dan Toli-toli, dengan terbitnya PP No. 33 tahun 1952 tanggal 12 Agustus 1952 resmi berdiri menjadi Kabupaten Donggala, maka istilah distrik secara bertahap berubah menjadi kecamatan dan sub kecamatan.

Distrik Banawa Utara pada tahun 1960 berubah nama menjadi Sub Kecamatan Damsol dengan pusat pemerintahan di Sabang. Selanjutnya pada tanggal 23 April 1965 Sub Kecamatan Damsol resmi berubah yang  beribukota di Sabang. Dengan wilaya dari Desa Kembayang sampai Desa Ogoamas.

Dengan adanya upaya pemerintah memekarkan kecamatan untuk mendekatkan pelayan kepada masyarakat, maka melalui Perda No. 43 Tahun 1996 terbentuklah Kecematan Sojol yang meliputi Desa Pangalaseang sampai dengan Desa Ogoamas. Sedangkan dari Desa Kembayang sampai Desa Rerang tetap menjadi wilayah Kecamatan Damsol.

RSS
Facebook
Google+
Twitter
LinkedIn
Whatsapp