Keragaman Etnik di Provinsi Sulawesi Tengah

Pakuli-NoerBerbeda dengan wilayah lainnya di Indonesia, wilayah Sulawesi Tengah memiliki etnik yang beragam. Keragaman etnik ini diduga sebagai wujud dari pengaruh kondisi lingkungan yang didominasi oleh pegunungan dan dataran tinggi.

Jika menilik bentang alamnya, di bagian utara wilayah Sulawesi tengah terdapat deretan pegunungan yang berangkai ke jajaran pegunungan di Propinsi Gorontalo. Di bagian tengah sebagian besarnya merupakan daerah pegunungan dan perbukitan. Di bagian selatan dan timur berjejer deretan pegunungan yang sangat rapat seperti Pegunungan Tokolekayu, Pegunungan Verbeek, Pegunungan Tineba, Pegunungan Pampangeo, Pegunungan Fennema, Pegunungan Balingara dan Pegunungan Batui.

Beberapa sumber menyatakan bahwa secara umum, sebaran penduduk Sulawesi Tengah yang mendominasi beberapa wilayah dikelompokan atas tiga belas etnis, yaitu:

  1. Etnis Kaili mayoritas berada di wilayah Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Parigi Moutong;
  2. Etnis Kulawi mayoritas berada di wilayah Kabupaten Sigi;
  3. Etnis Lore mayoritas berada di wilayah Kabupaten Poso;
  4. Etnis Pamona mayoritas berada di wilayah kabupaten Poso;
  5. Etnis Mori mayoritas berada di wilayah Kabupaten Morowali;
  6. Etnis Bungku mayoritas berada di wilayah Kabupaten Morowali;
  7. Etnis Saluan atau Loinang mayoritas berada di wilayah Kabupaten Banggai;
  8. Etnis Balantak mayoritas berada di wilayah Kabupaten Banggai;
  9. Etnis Banggai mayoritas berada di wilayah Kabupaten Banggai Kepulauan;
  10. Etnis Buol mayoritas berada di wilayah Kabupaten Buol;
  11. Etnis Tolitoli mayoritas berada di wilayah Kabupaten Tolitoli;
  12. Etnis Ta’a mayoritas berada di wilayah Kabupaten Tojo Una Una;
  13. Etnis Tomini mayoritas berada di wilayah Kabupaten Parigi Moutong.

Seiring dengan perkembangan waktu, selain etnik-etnik di atas juga terdapat etnik pendatang yang kemudian menetap dan berbaur dengan etnik asli Sulawesi Tengah. Beberapa etnik ini di antaranya Etnik Bugis; Makasar, Toraja, Bali; Jawa; Nusa Tenggara Barat; Nusa Tenggara Timur; dan etnis lainnya.

Keberagaman etnik ini merupakan aset sosio-kultural yang penting sebagai kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya alam, termasuk sumber daya hutan. Salah satu kearifan lokal yang berkembang dan masih kuat tergambar dalam filsafat katuvua (kehidupan), atau istilah serupa lainnya. Katuvua merupakan sebuah nilai dalam hubungan antara manusia dengan lingkungannya yang dilandasi oleh sikap kearifan dan keselarasan dengan alam. Ketaatan pada nilai-nilai katuvua akan menjadikan alam lingkungan menjadi tetap lestari.

RSS
Facebook
Google+
Twitter
LinkedIn
Whatsapp