Notice: Trying to get property of non-object in /home/kanq6153/public_html/wp-content/plugins/Ultimate-Premium-Plugin/libs/controllers/sfsi_wordpresshelper.php on line 252

Pemulihan Kerusakan Terumbu Karang di Sulawesi Tengah


Warning: array_filter() expects parameter 1 to be array, string given in /home/kanq6153/public_html/wp-content/plugins/Ultimate-Premium-Plugin/usm_premium_icons.php on line 624

Tulisan ini merupakan kutipan dari materi salah satu konsultan yang disampaikan pada ekspose hasil kegiatan penanggulangan  dan pemulihan  kerusakan terumbu karang dengan metode transpalantasi. Sebagai oleh-oleh sebatas yang sempat saya catat

SelanjutnyaPemulihan Kerusakan Terumbu Karang di Sulawesi Tengah

Konflik Petani dengan Monyet


Warning: array_filter() expects parameter 1 to be array, string given in /home/kanq6153/public_html/wp-content/plugins/Ultimate-Premium-Plugin/usm_premium_icons.php on line 624

Monyet hitam (Macaca tonkeana) menurut IUCN Redlist termasuk dalam status vulnerable (rentan), artinya jenis monyet ini menghadapi resiko kepunahan di alam liar pada waktu yang akan datang. Oleh karena itu, jenis monyet ini oleh PP No. 7 Tahun 2009 dimasukan dalam daftar satwa yang dilindungi. Berbeda dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, masyarakat mengangap Macaca tonkeana merupakan hama tanaman. Pasalnya, monyet ini berkeliaran di kebun masyarakat dan bahkan ada yang masuk ke perkampungan untuk mencari makan. Di kebun, monyet memakan buah tanaman kakao yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat. Monyet juga tidak lagi takut kepada manusia. Ketika diusir agar pergi dari kebun, monyet akan melawan atau pura-pura lari dan setelah dibelakangi oleh petani, monyet akan masuk kebun kembali.

SelanjutnyaKonflik Petani dengan Monyet

Hutan Konservasi di Sulawesi Tengah Beserta Statusnya


Warning: array_filter() expects parameter 1 to be array, string given in /home/kanq6153/public_html/wp-content/plugins/Ultimate-Premium-Plugin/usm_premium_icons.php on line 624

Dalam rangka melestarikan keanekaragaman hayati, di Provinsi Sulawesi Tengah terdapat 26 unit kawasan konservasi yang tersebar di beberapa kabupaten/kota. Namun demikian dari 26 unit kawasan konservasi ini, baru 9 unit yang sudah mendapat status penetapan. Sedangkan sisanya terdiri dari 11 unit baru mendapat status penunjukan, dan 6 unit baru sebatas usulan. Penetapan kawasan hutan adalah suatu penegasan tentang kepastian hukum mengenai status, batas, fungsi dan luas wilayah hutan menjadi kawasan hutan tetap. Sedangkan penunjukan adalah penetapan awal peruntukan suatu wilayah tertentu sebagai wilayah dengan keputusan Menteri Kehutanan.

SelanjutnyaHutan Konservasi di Sulawesi Tengah Beserta Statusnya

Naskah Akademis Rancangan Undang-Undang Konservasi Keanekaragaman Hayati


Warning: array_filter() expects parameter 1 to be array, string given in /home/kanq6153/public_html/wp-content/plugins/Ultimate-Premium-Plugin/usm_premium_icons.php on line 624

Derasnya perubahan lingkungan strategis yang terjadi dalam kurun waktu 20 tahun terakhir telah menyebabkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAHE) menjadi tidak relevan lagi. Pada kondisi demikian, penyelenggaraan konservasi keanekaragaman hayati berjalan kurang efektif, sehingga perlu segera dilakukan penyempurnaan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990.

SelanjutnyaNaskah Akademis Rancangan Undang-Undang Konservasi Keanekaragaman Hayati

Taman Hutan Raya


Warning: array_filter() expects parameter 1 to be array, string given in /home/kanq6153/public_html/wp-content/plugins/Ultimate-Premium-Plugin/usm_premium_icons.php on line 624

Agar fungsi utama hutan sebagai penjaga keseimbangan alam terjaga, maka eksistensinya harus tetap dipertahankan melalui pengaturan fungsi hutan. Untuk itu, penetapan hutan dilakukan berdasarkan fungsi-fungsi hutan yang meliputi hutan konservasi, hutan lindung, dan hutan produksi.

Hutan sebagai sumber penghasil berupa kayu dan bukan kayu dapat dilakukan pada hutan produksi. Sedangkan hutan konservasi dan hutan lindung berfungsi sebagai kawasan lindung yang memiliki fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan. Hutan konservasi terbagi lagi menjadi hutan suaka alam, hutan pelestarian alam, dan taman buru. Salah satu jenis hutan pelestarian alam diantaranya adalah taman hutan raya (Tahura).

SelanjutnyaTaman Hutan Raya