Forum Pengelolaan Cagar Biosfer Lore Lindu – Sulawesi Tengah

Taman Nasional Lore Lindu yang terletak di Kabupaten Sigi dan Kabupaten Poso, ditetapkan oleh Menteri Kehutanan melalui keputusan No. 464/Kpts-II/1999 tanggal 29 Januari 1999 ini, memiliki obyek wisata diantaranya birdwatching, air terjun, hiking, dan air panas.

Pada kawasan seluas 271,991.18 Ha, taman nasional ini memiliki potensi flora diantaranya leda (Eucalyptus deglupta), damar gunung (Agathis philippnensis), uru (Elmerilla ovalis), wanga (Pigafetta filaris ), anggrek (Orchida), edelweiss, cemara gunung (Casuarina junghuhniana). Sedang potensi fauna diantaranya maleo (Macrocephalon maleo), babi rusa (Babyroussa babirusa), Anoa (Bubalus quarlesii), monyet hitam (Macacatonkeana), musang coklat (Macrogalidia muchenbroekii).

Jauh sebelum Lore Lindu ditetapkan sebagai taman nasional, kawasan hutan yang melintasi dua kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah ini, pada tahun 1977, secara internasional oleh UNESCO ditunjuk sebagai kawasan cagar biosfer dunia, untuk mengembangkan hubungan yang selaras antara kesejahteraan hidup masyarakat dan kelestarian hutan.

Cagar Biosfer adalah situs yang ditunjuk oleh berbagai negara melalui kerjasama program MAB-UNESCO untuk mempromosikan konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan, berdasarkan pada upaya masyarakat lokal dan ilmu pengetahuan yang handal. Sebagai kawasan yang menggambarkan keselarasan hubungan antara pembangunan ekonomi, pemberdayaan masyarakat dan perlindungan lingkungan, melalui kemitraan antara manusia dan alam, cagar biosfer adalah kawasan yang ideal untuk menguji dan mendemonstrasikan pendekatan-pendekatan yang mengarah kepada pembangunan berkelanjutan pada tingkat regional.

Lore lindu ditunjuk sebagai cagar biosfer karena memiliki kriteria (1) memiliki mosaik ekosistem yang mewakili dari biogeografi utama di suatu wilayah; (2) memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang signifikan; (3) Memiliki potensi untuk dikembangkan dengan pembangunan berkelanjutan; dan (4) memiliki luasan yang cukup untuk mengaplikasikan tiga fungsi, meliputi fungsi konservasi, fungsi pembangunan dan fungsi penelitian dan pendidikan.

Setelah 34 tahun ditunjuk sebagai kawasan cagar biosfer, baru kemarin, pada tanggal 31 Oktober 2011 Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu bersama Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah dan MAB-UNESCO, menyelenggarakan workshop untuk memfasilitasi pembentukan Forum Koordinasi dan Komunikasi Pengelolaan Cagar Biosfer Lore Lindu.

Ke depan, diharapkan forum dapat melaksanakan koordinasi dan komunikasi di antara berbagai instansi yang berwenang dengan para pemangku kepentingan  (stakeholders) melalui pembagian peran dan tanggung jawab dalam mengimplementasikan konsepsi pengelolaan cagar biosfer, yang mencakup kawasan konservasi, lansekap alami dan kawaan budidaya. Dengan pengelolaan, dibagi menjadi tiga zona yang saling berhubungan, yaitu :

  1. Area inti (core area) adalah kawasan konservasi atau kawasan lindung dengan luas yang memadai, mempunyai perlindungan hukum jangka panjang, untuk melestarikan keanekaragaman hayati beserta ekosistemnya.
  2. Zona penyangga (buffer zone) adalah wilayah yang mengelilingi atau berdampingan dengan area inti dan teridentifikasi, untuk melindungi area inti dari dampak negatif kegiatan manusia. Dimana hanya kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan tujuan konservasi yang dapat dilakukan.
  3. Area transisi (transition zone) adalah wilayah terluar dan terluas yang mengelilingi atau berdampingan dengan zona penyangga. Kegiatan-kegiatan pengalolaan sumberdaya alam secara lestari dan model-model pembangunan berkelanjutan dipromosikan dan dikembangkan.

Dengan Forum Koordinasi dan Komunikasi Pengelolaan Cagar Biosfer Lore Lindu, diharapkan konsep penyelarasan antara pemenuhan hak dasar manusia, kelestarian lingkungan dan pembangunan ekonomi, dapat diimplementasikan. Sehingga, dapat tercipta pembangunan yang berkelanjutan di sekitar lore lindu dan sekitarnya.

RSS
Facebook
Google+
Twitter
LinkedIn
Whatsapp