Pengembangan Arboretum Palu

Dalam pengelolaan keanekaragaman hayati dikenal dua macam pelestarian, yaitu in-situ dan ex-situ. Cara in-situ bersifat pasif, yaitu dengan mengamankan tempat tumbuh alamiah sesuatu jenis, dalam keadaan lingkungan alam dan habitatnya yang asli. Cara ex-situ dilakukan dengan lebih aktif, yaitu memindahkan sesuatu jenis ke suatu tempat pemeliharaan baru. Untuk pelestarian keanekaragaman tumbuhan, diantaranya dipertahankan dalam kebun koleksi tumbuhan, yaitu arboretum.

SelanjutnyaPengembangan Arboretum Palu

Menekan Laju Deforestasi

Hutan mempunyai peran penting dalam menunjang kelangsungan hidup dan kehidupan mahluk hidup, khususnya umat manusia. Hutan tidak hanya memberikan manfaat langsung (tangible use) sebagai sumber penghasil hasil hutan berupa kayu dan non kayu, tetapi hutan juga memberikan manfaat tidak langsung (intangible use) sebagai pengatur tata air, kesuburan tanah, iklim mikro, pencegah erosi dan longsor, sehingga eksistemsinya harus tetap dipertahankan melalui pengaturan fungsi hutan.

SelanjutnyaMenekan Laju Deforestasi

Pemasaran Mebel Rotan Kota Palu Melalui Pendekatan Budaya

Sulawesi Tengah memiliki kawasan hutan seluas 4.394.932 ha atau sama dengan 64,60 % luas daratan Sulawesi Tengah (6.803.300 ha), yang memiliki potensi bahan baku rotan cukup besar. Rotan dari Sulawesi tergolong kualitas prima, sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan jenis rotan yang sama di luar Sulawesi, dan sangat dibutuhkan oleh industri meubel rotan untuk keperluan ekspor.

SelanjutnyaPemasaran Mebel Rotan Kota Palu Melalui Pendekatan Budaya

Pengamanan Hutan Secara Partisipatif

Pada tahun 1998, penjarahan kayu besar-besaran yang terjadi di kawasan hutan Perum Perhutani adalah puncak dari upaya masyarakat memecahkan akumulasi persoalannya, baik timbunan masalah masa lampau seperti hubungan inter-personal dan pemenuhan kebutuhan yang tertunda, maupun masalah kontemporer seperti upaya memberi makan para penganggur. Kedua masalah ini hanya menjadi pemicu dimulainya penjarahan. Pada akhirnya sejarah bercerita bahwa tindakan represif polisional yang memakan korban jiwa malah membuat keadaan semakin runyam. Terjadi perusakan, pembakaran, dan pengusiran aparat keamanan, baik dari Perum maupun militer, sehingga tidak ada satu pihak pun yang bisa menangani keadaan.

SelanjutnyaPengamanan Hutan Secara Partisipatif