Perhutanan Sosial di KPH Pogogul (Bag 2): Hutan Desa Lakuan Buol

Hutan Desa (HD) adalah hutan negara yang dikelola oleh desa dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan desa. HD merupakan salah satu bentuk dari perhutanan sosial – sistem pengelolaan hutan secara lestari dengan masyarakat setempat sebagai pelaku utamanya.

Pada wilayah KPH Pogogul – hingga 1 Juli 2018, terdapat 11 izin HD berupa Hak Pengelolaan Hutan Desa (HPHD) yang diterbitkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dengan total luas 4.005 ha.

HD yang telah memperoleh ijin Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan meliputi HD Air Terang – Kecamatan Tiloan seluas 165 ha; HD Lakuan Buol – Kecamatan Lakea seluas 120 ha; HD Nandu – Kecamatan Gadung seluas 95 ha; HD Boilan – Kecamatan Tiloan seluas 122 ha; HD Monggonit – Kecamatan Tiloan seluas 781 ha; HD Talaki – Kecamatan Paleleh seluas 763 ha; HD Lripubogu – Kecamatan Gadung seluas 188 ha; HD Labuton – Kecamatan Gadung seluas 298 ha; HD Mendaan – Kecamatan Karamat seluas 413 ha; HD Busak I – Kecamatan Karamat seluas 933 ha; dan HD Mokupo – Kecamatan Karamat seluas 127 ha.

Berikut gambaran HD Lakuan Buol, salah satu dari HD yang telah memperoleh ijin dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan di atas.

 

Hutan Desa Lakuan Buol

Hak Pengelolaan Hutan Desa (HPHD) Lakuan Buol ditetapkan melalui Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. SK.5032/MenLHK-PSKL/PKPS/PSL.0/9/2017 tgl 4 Oktober 2017, seluas ±120 Ha.

Hutan Desa (HD) Lakuan Buol terletak di Desa Lakuan Buol, Kecamatan Lakea, Kabupaten Buol. Berdasarkan posisi DAS, Lakuan Buol berada di DAS Marajae/Sub DAS Lakuan. Desa Lakuan Buol memiliki batas-batas meliputi batas sebelah utara Laut Sulawesi, sebelah selatan Kabupaten Tolitoli, sebelah timur Desa Lakea 1, dan sebelah barat Kabupaten Tolitoli.

HD Lakuan Buol berada pada kawasan hutan dengan fungsi Hutan Produksi. Kondisi fisik tutupan lahan sebagian terdiri dari hutan sekunder, perkebunan, dan pertanian lahan kering. Jenis tanaman yang diusahakan masyarakat di antaranya pohon durian dan kakao. Aksesbilitas dari desa menuju lokasi tergolong tinggi dengan lokasi yang mudah dijangkau.

Potensi usaha dalam kawasan meliputi (1) Pemanfaatan kawasan, berupa budidaya rotan, pohon jabon, pohon kemiri dan pohon aren. (2) Pemanfaatan dan/atau pemungutan hasil hutan, berupa kayu palapi, nyatoh dan jabon. (3) Pemanfaatan dan/atau pemungutan hasil hutan bukan kayu dari hutan alam, berupa rotan, buah kemiri, air gula aren, buah kakao, madu lebah, getah damar dan HHBK lainnya. (4) Pemanfaatan jasa lingkungan, berupa air, wisata alam dan jasa lingkungan lainnya.

Kondisi sosial ekonomi masyarakat meliputi jumlah penduduk laki-laki sebanyak 730 jiwa, perempuan sebanyak 632 jiwa. Jumlah KK 412 KK. Mata pencaharian utama Petani. Tingkat kesejahteraan masyarakat kategori sejahtera (60% dari jumlah penduduk), dan kategori pra sejahtera (40% dari jumlah penduduk).

Dalam konteks kearifan lokal, hutan dipandang sebagai sumber pemenuhan kebutuhan masyarakat terutama sumber air. Karena itu hutan perlu dikelola secara bijaksana agar hutan dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.