Pejuang Konservasi Burung Maleo

Sebuah gubuk beratap daun kelapa luasnya kurang lebih empat kali empat meter berdiri diantara pohon-pohon kakau. Susunan lembaran papan kayu yang dipaku pada tiang membungkus dinding keempat sisi ruang dalam gubuk. Pada bagian gubuk lainnya sisinya dibiarkan tetap terbuka. Di kolong gubuk ada setumpuk sabut kelapa yang kering untuk bahan bakar memasak. Bekas-bekas bara api dari kayu terbakar yang ada di tungku masih mengepulkan asap, pisang rebus yang nampaknya belum lama diangkat dari panci tersusun berjajar di atas meja di sebelah tungku. Seorang laki-laki tua perlahan-lahan menuruni tangga dari gubuk yang mungil itu. Kakinya yang tidak beralas sandal terlihat keriput dimakan usianya yang telah menginjak delapan puluhan tahun. Mengenakan selembar kain sarung yang lusuh melilit tubuhnya. Diantara suara nyanyian dari radio yang sedang ia setel, dengan ramah laki-laki tua itu memperkenalkan namanya Alikamisi Raja Pasu. Nama ini oleh orang sekampung biasa disingkat menjadi Pak Ali.

SelanjutnyaPejuang Konservasi Burung Maleo

Berkunjung ke Ngata Toro – Sulawesi Tengah

Pada tanggal 13 Desember 2011, kami bersama dengan beberapa teman lain dari Pokja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah dan Programme Management Unit (PMU) UN-REDD Program Indonesia, berkunjung ke Ngata Toro.

Ngata Toro atau Desa Toro merupakan salah satu wilayah masyarakat adat di Sulawesi Tengah yang terletak berbatasan Iangsung dengan kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Secara administrasi, Ngata Toro termasuk dalam wilayah Kecamatan Kulawi Selatan, Kabupaten Sigi.

SelanjutnyaBerkunjung ke Ngata Toro – Sulawesi Tengah